Senja telah meraja. Malam sebentar lagi menggantikan. Matahari seakan kehilangan daya terangnya bagaikan lampu raksasa yang kehabisan baterai. Angin bertiup lelah. Binatang dan manusia berjalan gontai setelah seharian mengais rezeki untuk diri mereka, atau mungkin keluarga mereka. Siang tak lagi genap. pepohonan melambai payah. Burung-burung berkicau lemah, tak lagi bersahutan kecuali sesekali. Manusia-manusia kerdil tak jemu-jemu melayani ambisi pribadi, melayani nafsu, melayani keinginan-keinganinan yang tak penting. Tak pernah dibukanya kamus-kamus yang berisi kepentingan umat, karena ia tak pernah sempat membeli atau meminjamnya, sementara kamusnya yang berisi kepentingan pribadi sudah hampir lusuh. Mampir ke cafe-cafe atas nama melepas lelah, yang sayangnya justru menambah lelah yang baru pada jiwa. Lucu. Untuk apa keluar dari lumpur bila sedetik kemudian terjun kembali ke dalam lumpur dari sumur yang lain. Definisi istirahat semakin kacau.
Sedangkan manusia-manusia besar, tak pernah lelah membuka kamus kepentingan umatnya yang sudah sangat lusuh. Dari lelah bekerja seharian untuk kepentingan umat, istirahat di senja hari juga untuk kepentingan umat. Kamus yang bernama kepentingan dan ambisi pribadi telah lama hilang. Karena itulah kepentingan ummat selalu berada diatas kepentingan pribadinya. "Siapa yang hidup untuk dirinya, akan hidup sebagai manusia kecil dan mati sebagai manusia kecil" begitu tutur Sayyid Quthb. "Siapa yang hidup bagi orang lain, hidup sebagai manusia besar dan tak akan mati selamanya" Ia melanjutkan.
Adakah kau lihat orang besar di sekitarmu?. Merajut hari dengan lelah yang tak pernah sudah. Membungkam mulut untuk sekedar mengatakan bahwa ia lelah. Mengharamkan jiwa untuk berpikir putus asa, serta meletakkan semua kepentingan ummat diatas kepentingannya. Sampai pada masalah yang dalam islam asholahnya adalah urusan pribadi seperti menikah, diserahkan dan dipercayakan sepenuhnya pada jama'ah, ya, menikah asholahnya adalah urusan pribadi yang setiap orang berhak memilih pasangannya, tetapi disini, orang-orang besar tak pernah terjebak dan tergoda untuk mengabaikan kepentingan ummat dan jama'ah. Sekali lagi, pernahkah kau melihat orang-orang ini di sekitarmu?. Atau mungkin pertanyaannya harus diganti, benarkah kita yang mengaku berjuang untuk ummat, benar-benar meletakkan kepentingan ummat diatas kepentingan pribadi hatta pada masalah yang sangat pribadi yang tadi disebutkan?.
Lalu adakah kau melihat orang kecil di sekitarmu?. Merajut hari dengan lelah yang sama. Tetapi tak pernah berhenti mengeluh tentang payah yang menuntut untuk berhenti bekerja, melenakan jiwa dengan penilaian manusia, membiarkan diri sepi karena pengingkaran terhadap hati, membiarkan hati kerontang karena tak pernah menimba air dari telaga ruhani, serta membiarkan pengkhianatan terhadap kepentingan ummat digerogoti kepentingan pribadi. Ah...mereka memang tak seekstrim orang-orang yang tak pernah memikirkan kepentingan ummat, lalu menghabiskan hari-harinya di cafe, mall, pusat perbelanjaan untuk berfoya-foya. Tetapi kadar racunnya hampir sama, bahkan pada kadar tertentu racunnya jauh lebih mematikan. Sekali lagi, adakah kau lihat mereka di sekitarmu?, atau jangan-jangan kau dan akulah orang itu?.
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya". Begitu kanjeng nabi berkata dalam sebuah hadist yang sangat masyhur. Dan pintu kemanfaatan itu adalah mendahulukan kepentingan ummat daripada kepentingan sendiri. mendahulukan kepentingan ummat itu sesungguhnya bermula pada cara pikir kita terhadap kehidupan, juga bermula pada seberapa jauh daya jangkau visi kita. bila cara pikir kita statis,monoton, dan egoistik, maka mendahulukan kepentingan ummat itu menjadi cara yang paling sulit untuk disinggahi, begitu juga bila visi kita cuma sejengkal maka daya jangkau amal kita besar kemungkinan akan lebih dangkal dari visi tersebut. Orang yang visi hidupnya hanya untuk dunia saja, maka visinya tentang kenikmatan hidup sangat mungkin berlabuh hanya kepada kenikmatan sementara. Sementara orang yang mempunyai daya jangkau visi ukhrowi, maka cara berpikirnya tentu akan lebih integral, visioner serta produktif untuk dirinya dan orang lain. Orang yang visi hidupnya jauh melampaui usia dunianya, maka visi-nya tentang kenikmatan hidup jauh lebih holistik.
Untuk menjadi orang besar kata kuncinya adalah memberikan manfaat sebanyak-banyaknya kepada orang lain. Dan langkah selanjutnya adalah mensinergikan cara kita memberi manfaat dengan orang-orang yang juga berpikiran sama dengan kita, dan pensinergian itu hanya mungkin dilakukan dengan bergabung dalam sebuah gerakan. Gerakan itu adalah gerakan kebaikan, kemanfaatan serta kemaslahatan bagi ummat. Jadi gerakan itu adalah kumpulan orang-orang yang mempunyai visi yang menembus batas-batas duniawi serta orag-orang yang menyadari betul bahwa segala bentuk kepentingan pribadi hanya bisa dipenuhi bila ia tidak bertabrakan dengan kepentingan ummat atau kepentingan pribadi itu hanya bisa dipenuhi bila ia bisa disinergikan dengan kepentingan ummat dan gerakan.
Orang-orang besar itu kata Ustadz Anis Matta, selalu diliputi kesadaran sakral yang intens, bahwa eksistensi dirinya benar-benar nyata saat mana ia menjadi bagian dari gerakannya, yaitu gerakan kebaikan, kemanfaatan serta kemaslahatan ummat. Dengan itu, maka orang-orang besar ini baru akan merasa benar-benar bermanfaat bila kerja-kerjanya sesuai dengan takhtit yang telah ditentukan oleh gerakannya. Jadi tak cukup hanya sekedar memberikan manfaat, tetapi pemberian manfaat itu harus tertata rapi agar dapat menimbulkan manfaat yang jauh lebih besar lagi.
Dan bila kau ingin menjadi orang kerdil, kata kuncinya adalah teruslah menyibukkan diri dengan kepentingan-kepentingan pribadi dan abaikan kepentingan-kepentingan ummat. Selanjutnya tak usah pernah kau gubris pembicaraan orang-orang besar itu. Karena semuanya tak akan pernah masuk dalam daya jangkau visi hidupmu. Sekali lagi tak usah kau gubris omongan orang-orang besar itu, karena kau pasti akan melihat mereka bagaikan orang-orang lugu yang hidup ditengah-tengah srigala culas. Jadi tak usah berpikir tentang orang-orang besar itu, sebelum kau mengubah daya jangkau visimu. Hiduplah sebagai orang kecil yang wajar, dan setelah itu matilah pula dengan cara mati orang-orang kecil. Cukup.
Lil ikhtitam, sesungguhnya upaya-upaya perbaikan yang dilakukan oleh sebuah gerakan adalah pengejawantahan dari keinginan individu-individu di dalamnya untuk memberikan manfaat sebanyak-banyaknya bagi ummat, dan pengaturan-pengaturan oleh gerakan sesungguhnya adalah langkah untuk melipat gandakan kemanfaatan tersebut. Maka bila cara berfikir kemanfaatan ini ada pada setiap orang dalam gerakan, tak heran kalau Al-Banna mengatakan bahwa sesungguhnya ummat atau mad'u itu jauh lebih kita cintai dibanding diri kita sendiri. Karena itulah bila aku atau mungkin engkau masih sangat mencintai diri ini ketimbang mencintai mad'u dan jalan dakwah ini, maka ucapkanlah takbir untuk memulai perubahan, atau bila tidak bersiaplah untuk mengucapkam Inna lillahi wa inna lillahi roji'un atas kekerdilan atau mungkin kematian jiwa ini. Astaghfirullahal 'Azhim.
Wallahu A'lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar